HEGEMONI KEKUASAAN DALAM ‘NEGERI YANG MEMBUNUH MATAHARINYA SENDIRI” KARYA KEN SARO-WIWA

Murtini Murtini

Abstract


Pada dasarnya sastra (termasuk cerpen) bersifat imajinatif. Sifat ini memuat fakta dan fiksi. Dalam hal ini NYM2S, memang merupakan karya fiksi, tapi diasumsikan terdapat fakta di dalamnya. Oleh karena, cerpen ini tampaknya menggambarkan kehidupan pengarang (Ken Saro-Wiwa) yang dihukum mati oleh pemerintah Nigeria, seperti tokoh Bana dalam cerpen yang diciptakannya.

Cerpen ini banyak mempersoalkan tentang suap, hukum yang tidak adil, kekuasaan, pemimpin yang kejam, bahkan sampai acara televisi yang tidak mendidik. Bagi Wiwa “sastra tidak bisa dipisahkan dari politik”. Sastra –dalam hal ini cerpen- juga dapat dimanfaatkan untuk memberi masukan kepada pemerintah, agar bisa menjalankan pemerintahan ini dengan benar.

Ungkapan “pena lebih tajam dari pada seribu pedang” tampaknya dibuktikan oleh Wiwa

Full Text:

PDF

References


Lubis, Mochtar. 1987. Mafia dan Korupsi Birokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Mohamad, Goenawan. 1993. Kesusastraan dan Kekuasaan. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Selden, Raman. 1991. Panduan Membaca Teori Sastra Masa Kini (Terj. Rachmat Djoko Pradopo).

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Storey, John. 2008. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop: Pengantar Komprehensif Teori dan

Metode. Yogyakarta: Jalasutra.

Susanto, Dwi. 2012. Pengantar Teori Sastra. Yogyakarta: CAPS.

Wiwa, Ken Saro. 2012. “Negeri yang Membunuh Mataharinya Sendiri” (Disadur oleh Tri Ratna

Kurniasari). Basis No. 01-02, Tahun Ke-61. Yogyakarta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.