BAHASA DAN BUDAYA JAWA DALAM EKSPRESI "KEBO BULE" DI SURAKARTA: KAJIAN ETNOLINGUISTIK

Wakit Abdullah, Titis Srimuda Pitana

Abstract


Fenomena "Kebo Bule" sebagai aktualitas bahasa dan budaya Jawa di Surakarta dapat dikritisi dari perspektif etnolinguistik. Adapun secara deskriptif kualitatif ekspresi bahasa dan budaya Jawa “Kebo Bule” dari perspektif etnolinguistik dapat diidentifikasi dari latar belakang adanya “Kebo Bule” di Surakarta, pengaruh “Kebo Bule” itu terhadap Kraton Surakarta dan makna “Kebo Bule” sebagai salah satu “ikon kesaktian” Kraton Surakarta. Etnolinguistik sebagai konsep teoretis merupakan bagian dari cabang linguistik yang berupaya untuk mengupas pemahaman bahasa dalam konteks yang lebih luas agar bisa mengemukakan pemahaman budaya masyarakat. Secara metodologis pemahaman hubungan antara ekspresi bahasa dan budaya “Kebo Bule” tersebut dapat dikupas menggunakan etnometodologis untuk etnolinguistik dengan memanfaatkan etnosains (pengetahuan khas yang dimiliki oleh etnis, suku bangsa, masyarakat) untuk menemukan tema-tema budaya masyarakat terkait pola pikir, pandangan hidup dan pandangan terhadap dunianya. Data penelitian berupa data lisan dan tertulis, sumber data lisan dari informan dan data tulis dari pustaka. Validitas data dengan triangulasi, dan analisis data menggunakan etnosains (terutama analisis taksonomi, domain dan komponensial). Hasil penelitian ini meliputi (1) ekspresi verbal nama “Kebo Bule” yang teruraikan dalam nama “Kebo Bule” kerbau yang berkulit putih kemerahan merujuk pada “bule’ ‘Belanda’, “Kebo Slamet” kerbau yang dianggap menjadi bagian sarana tolak balak marabahaya yang mengancam kraton, “Kyai Slamet” awalnya nama “pemelihara” kerbau lambat-laun menjadi nama kerbau “piaraannya”. Ekspresi verbal itu memiliki makna kultural tersendiri bagi kraton dalam ritual malam 1 Sura, (2) ekpsresi praktikal tentang pengaruh “Kebo Bule” terikat oleh makna kultural, makna konotatif, makna historis (politis), dan makna praktikal, dan (3) bukti spiritual terkait pengaruh kesaktian “kebo bule” terhadap Kraton Surakarta hanya bersifat legitimatif. Adapun makna “kebo bule” sebagai salah satu “ikon kesaktian” Kraton Surakarta dari perspektif etnolingusitik dapat diidentifikasi dari makna kultural, makna konotatif, makna historis (politis) dan makna praktikal.

Keywords


“Kebo Bule”, Bulan Sura, Surakarta, Enolinguistik

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.