Vol 15, No 1 (2015)

Etnografi

Diseminasi Penelitian: Antara Idealisme dan Pragmatisme

Tatkala fenomena jurnal internasonal terindeks Scopus digaungkan sebagai wujud nyata aktualisasi diri seorang dosen, maka telah terjadi pergeseran pola diseminasi hasil-hasil penelitian. Yang semula hanya berorientasi pada forum-forum seminar, baik nasional maupun internasional kini mulai beralih menuju jurnal internasional terindeks Scopus.

Tentu saja, hal ini membawa dampak positif, yaitu Scopus kini telah menjadi mainstream “impian” yang harus diraih dan diwujudkan oleh seorang dosen bila aktualisasi diri dan reputasi keilmuannya hendak diakui, baik di level nasional atau level internasional. Namun, sisi negatifnya, yaitu jurnal-jurnal nasional mulai kehilangan “peminat”. Artinya, banyak pengelola jurnal “kelabakan” mencari artikel demi keberlangsungan hidup jurnal yang dikelolanya.

Ironisnya, lembaga pendidikan tinggi semakin berlomba untuk menetapkan target bagi para mahasiswa S2 dan S3 agar menulis di jurnal internasional terindeks Scopus. Bahkan, secara terbuka mereka mulai melirik pengelola jurnal internasional terindeks Scopus di India, yang dianggap lebih mudah dan relatif lebih cepat dalam proses seleksi karena mereka biasanya mematok tarif sekitar 200 US $ dan dalam durasi waktu sekitar 3 bulan artikel tersebut sudah dapat “publish” secara online. Dapat dibayangan, jika kemudian semua lembaga pendidikan tinggi menempuh shortcut seperti itu, berapa sumber dana yang mengalir ke india (bila semua mahasiswa S2 dan S3 harus menempuh cara-cara seperti itu). Mengapa tidak dibuat kebijakan yang lebih “memberdayakan” jurnal-jurnal nasional yang ada agar dapat meningkat kapasitas dan kualitasnya sehingga dapat “naik kelas” seperti jurnal-jurnal internasional yang terindeks Scopus? Dengan demikian, tidak banyak sumber dana dalam bentuk US $ yang mengalir “sia-sia” ke luar negeri di tengah situasi perekonomian yang semakin melambat dan rupiah yang masih terpuruk terhadap dolar. Sayangnya, para pemegang kebijakan di tingkat pusat seakan “tutup mata” terhadap fenomena ini.

Table of Contents

Articles

Ercilia Rini Octavia
PDF
13-32
Eva Farhah
PDF
33-52
Asep Yuda Wirajaya
1-12
Mulyadi , M.Sn.
PDF
53-61
Wahyu Novianto
PDF
62-72