Archives

2016

Vol 16, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Budaya Etnik

Menuju World Class University
Tuntutan zaman telah membuat semua universitas untuk dapat lebih mandiri secara finansial. Konsekuensinya, para pimpinan di universitas harus berpikir dan bekerja keras agar institusi yang dipimpinnya mampu bersaing di kancah pertarungan global. Tentu saja, hal itu akan memicu terjadinya perubahan dalam setiap lini, misal dalam aspek penelitian, para dosen dituntut untuk mampu menghasilkan penelitian-penelitian yang bermutu, bernilai guna, dan mampu menghasilkan revenue generating. Salah satu dampak positifnya adalah dosen mampu memberikan sentuhan-sentuhan inovasi dan kreativitas dalam proses belajar – mengajar di kelas. Di sisi lain, dosen juga dapat memberikan kontribusi positif terhadap kampus dengan cara menaikkan posisi peringkat universitas melalui pencatatan karya ilmiah terindeks scopus dan memberikan nilai tambah dalam bentuk revenue generating.
Dengan demikian, menjadi pimpinan universitas, baik rektor maupun dekan bukanlah sesuatu yang “mudah” atau “gampang” di Indonesia pada masa ini. Kampus yang tidak bisa membuat program hilirisasi penelitian, maka akan berdampak pada aspek finansial. Bahkan secara ekstrem, orang tua mahasiswa dan khalayak menuduh universitas telah menjadi komersial dan kapitalistis karena menaikkan uang kuliah. Sementara, dosen yang berprestasi menganggap universitas gagal menyediakan gaji dan iklim kerja yang pantas. Apa pun tindakan yang dipilih universitas seakan menjadi serba salah.
Pertanyaannya, siapkah kita memasuki sebuah era baru dalam kancah pendidikan global? Jawabannya, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka, terima atau tidak terima itulah fakta dan realita yang harus dihadapi oleh segenap sivitas akademik dan stakeholeder pendidikan tinggi. Inilah “banjir Nuh” yang sedang melanda dunia pendidikan kita. Semestinya, para pemimpin seperti layaknya seorang nabi Nuh, telah mempersiapkan “bahtera” yang siap untuk menampung segenap sivitas akademik sehingga mampu mengarungi deras dan kencangnya arus perubahan yang terjadi. Oleh karena itu, marilah kita bergandengan tangan, menyatukan hati dan kekuatan untuk segera menyiapkan dan mewujudkan “bahtera” yang mampu membawa universitas menuju world class university, bahkan kita mampu berselancar-ria di atas gelombang perubahan sosial yang disebut globalisasi.

Vol 16, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Budaya Etnik

Menuju Jurnal Terakreditasi dan Bereputasi Internasional

Dunia akademik tidak dapat dilepaskan dengan jurnal ilmiah sebagai media sosialisasi dan sekaligus aktulisasi hasil-hasil riset yang telah dilakukan oleh seorang dosen. Sayang, saat ini telah terjadi pergeseran paradigma bahwa para peneliti dan akademisi yang semula hanya berorientasi pada forum-forum seminar, baik nasional maupun internasional, kini mulai beralih menuju jurnal internasional terindeks Scopus.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pengelola jurnal, terutama yang hendak menuju akreditasi dan bereputasi. Mereka tidak saja direpotkan dengan hal-hal yang bersifat administratif, tetapi juga disibukkan dengan “berburu” artikel dari para penulis atau peneliti dan  akademisi  yang  bersedia  untuk  mempublikasikan  hasil-hasil  penelitian  mereka  dalam jurnal yang dianggap “belum bereputasi” karena belum terakreditasi.

Ironisnya, para akademisi seakan “tutup mata” dengan terus berlomba secara sungguh- sungguh  untuk  dapat  menembus  jurnal  internasional  terindeks  Scopus.  Semestinya,  perlu dibuat  terobosan  kebijakan  yang  lebih  “memberdayakan”  jurnal-jurnal  nasional  yang  ada agar  dapat  meningkat  kapasitas  dan  kualitasnya  sehigga  dapat  “naik  kelas”  seperti  jurnal- jurnal terakreditasi dan bereputasi internasional yang terindeks Scopus. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh pengelola jurnal Studi Islamika – Universitas Islam Negeri Jakarta. Tentu saja, hal ini memerlukan komitmen dari segenap stakeholder untuk membuahkan hasil yang memuaskan. Mereka tidak terlalu banyak mengurusi jurnal-jurnal yang dulu hampir dimiliki oleh setiap prodi, tetapi mereka fokus pada satu jurnal yang dikelola secara profesional, dengan dukungan sumber dana yang memadai dan komitmen dari segenap civitas akademika mereka berhasil membawa jurnal tidak hanya terakreditasi di tingkat nasional, tetapi juga bereputasi internasional terindeks scopus.

2015

Vol 15, No 2 (2015): Etnografi

Mandat PTN – BH

Mandat adalah perintah atau arahan yang diberikan oleh pemerintah (dalam hal ini menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi) kepada civitas akademika Universitas Sebelas Maret untuk mempersiapkan diri dalam menyongsong perubahan status menjadi PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri - Berbadan Hukum). Tentu saja, hal ini merupakan sebuah “kesempatan” dan sekaligus juga “tantangan” bagi seluruh civitas akademika di lingkungan Universitas Sebelas Maret - Surakarta untuk berbenah diri dan meningkatkan performanya agar mandat tersebut dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Di sisi lain, sebenarnya hal ini juga dapat diartikan sebagai “kaca benggala” untuk dapat menelisik lebih dalam lagi tentang kesiapan dan kesungguhan seluruh tim dalam menyongsong Era PTN - BH. Ya, terlebih lagi momentum ini terjadi pada saat Universitas Sebelas Maret menjelang memasuki usia ke-40. Sungguh, hal ini bukanlah sebuah faktor kebetulan semata. Hal ini adalah buah dari kerja keras sekian lama para pendahulu lembaga. Oleh karena itu, jangan sampai kesempatan emas yang ada di depan mata kemudian menjadi hilang - sirna begitu saja.

Kesungguhan untuk memperbaiki diri di setiap lini merupakan sebuah keharusan yang
tidak bisa tidak harus dilakukan. Karena tuntutan performa yang prima merupakan bagian yang melekat dari sebuah lembaga pendidikan tinggi yang menyandang status PTN - BH. Oleh karena itu, kini sudah bukan saatnya untuk melakukan pencitraan. Kini saatnya, semua civitas akademika UNS memberikan bukti nyata sebagai jawaban atas mandat yang telah diberikan oleh pemerintah. Selamat bekerja – bersinergi – berbagi manfaat bagi kehidupan yang lebih baik.

Vol 15, No 1 (2015): Etnografi

Diseminasi Penelitian: Antara Idealisme dan Pragmatisme

Tatkala fenomena jurnal internasonal terindeks Scopus digaungkan sebagai wujud nyata aktualisasi diri seorang dosen, maka telah terjadi pergeseran pola diseminasi hasil-hasil penelitian. Yang semula hanya berorientasi pada forum-forum seminar, baik nasional maupun internasional kini mulai beralih menuju jurnal internasional terindeks Scopus.

Tentu saja, hal ini membawa dampak positif, yaitu Scopus kini telah menjadi mainstream “impian” yang harus diraih dan diwujudkan oleh seorang dosen bila aktualisasi diri dan reputasi keilmuannya hendak diakui, baik di level nasional atau level internasional. Namun, sisi negatifnya, yaitu jurnal-jurnal nasional mulai kehilangan “peminat”. Artinya, banyak pengelola jurnal “kelabakan” mencari artikel demi keberlangsungan hidup jurnal yang dikelolanya.

Ironisnya, lembaga pendidikan tinggi semakin berlomba untuk menetapkan target bagi para mahasiswa S2 dan S3 agar menulis di jurnal internasional terindeks Scopus. Bahkan, secara terbuka mereka mulai melirik pengelola jurnal internasional terindeks Scopus di India, yang dianggap lebih mudah dan relatif lebih cepat dalam proses seleksi karena mereka biasanya mematok tarif sekitar 200 US $ dan dalam durasi waktu sekitar 3 bulan artikel tersebut sudah dapat “publish” secara online. Dapat dibayangan, jika kemudian semua lembaga pendidikan tinggi menempuh shortcut seperti itu, berapa sumber dana yang mengalir ke india (bila semua mahasiswa S2 dan S3 harus menempuh cara-cara seperti itu). Mengapa tidak dibuat kebijakan yang lebih “memberdayakan” jurnal-jurnal nasional yang ada agar dapat meningkat kapasitas dan kualitasnya sehingga dapat “naik kelas” seperti jurnal-jurnal internasional yang terindeks Scopus? Dengan demikian, tidak banyak sumber dana dalam bentuk US $ yang mengalir “sia-sia” ke luar negeri di tengah situasi perekonomian yang semakin melambat dan rupiah yang masih terpuruk terhadap dolar. Sayangnya, para pemegang kebijakan di tingkat pusat seakan “tutup mata” terhadap fenomena ini.


1 - 4 of 4 Items