KORELASI BAHASA DAN ESTETIKA SASTRA: DOMINASI NEGARA TERHADAP KARYA-KARYA REALISME SEBAGAI BENTUK LEGITIMASI KEKUASAAN PADA MASA ORDE BARU DI INDONESIA

Hary Sulistyo

Abstract


Permasalahan bahasa yang menjadi media kritik dan isu-isu kritis dalam dunia sastra mendapatkan lawan yang tangguh pada era Orde Baru. Sastrawan yang “membahasakan” kritik dan ideologi berbeda dengan faham negara, banyak yang berujung jeruji besi. Salah satu tokoh terkenal pada waktu itu adalah Pramoedya Ananta Toer yang dianggap sebagai tokoh Lekra, yaitu lembaga kebudayaan PKI yang sering mewacakanan karya bergaya realisme. Selain itu, pengarang yang menarik untuk dibahas adalah Wiji Thukul. Melihat pemikiran yang ia tuangkan di dalam karya-karyanya, Wiji Thukul memang sangat frontal. Pemilihan bahasa yang lugas dan mengandung pesan perlawanan terhadap kekuasaan, tentu tidak disukai oleh rezim Orde Baru yang berkuasa saat itu. Salah satu puisi Wiji Thukul yang mengkritisi pemerintahan adalah puisi berjudul “Tentang Sebuah Gerakan” (1989). Pemilihan judul ini tentu sudah menjadi persoalan ketika rezim pada waktu itu berkuasa. Melihat karakteristik karya-karyanya yang kritis dan penuh dengan nuansa perlawanan, menjadi masuk akal apabila hilangnya Wiji Thukul sering dihubungkan dengan rezim Orde Baru. Dominasi negara terhadap Wiji Thukul yang vokal melalui puisi-puisi dan pergerakan realisme sosialisnya yang mengangkat persoalan kemiskinan di kota Solo, merupakan catatan sejarah yang penting bagi Indonesia. Dalam sudut pandang kenegaraan, akan selalu diingat bahwa negara ini tidak akan pernah segan “memakan” anak-anaknya atas nama politik dan legitimasi kekuasaan.

Kata Kunci: Wiji Thukul, realisme sosialis, dan dominasi Orde Baru.


Full Text:

PDF (Indonesian)

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 ETNOGRAFI